Minggu, 09 Januari 2011

KEINDAHAN [plus kengerian] BERWISATA DI LUBANG JEPANG

Mau merasakan sensasi masuk terwongan zaman penjajahan Jepang, dengan dinding yang kokoh lagi dingin? Keheningannya yang beku..  Serta kengerian dan paranoid (buat yg takut gelap) yang mencekam..? Mampirlah ke Gua Jepang!!!  Buat yang pernah ke Bukittinggi, pastinya sudah tak asing lagi dengan wisata Lubang Jepang. Objek wisata ini ada di dalam kawasan Objek Wisata Taman Panorama. Pertama-tama, masuk dahulu nih, ke Taman Panorama dengan membayar tiket seharga Rp 4.000, lalu menuju Lubang Jepang dengan membayar tiket masuk lagi, sebesar Rp 5.000 [hari biasa] atau Rp 6.000 [hari Libur]. Dan petualangan menyusuri Lubang Jepang pun dimulai....... n_n
Pertama kali, kita akan menuruni sekitar 130-an (berdasarkan hitungan saya,,hehee) anak tangga ditemani cahaya lampu yang menerangi gua yang cukup gelap. Maklum, letak Lobang Jepang ini sekitar 40 meter di bawah tanah dengan panjang sekitar 1400 meter (sekarang 725 meter, karena sebagian lorong ditutup untuk safety pengunjung). Oya, Lobang Jepang ini dibangun oleh tentara Jepan [yaiyalaahhh..] tahun 1942-1945 dengan membayar para penduduk setempat [konon,cerita para saksi sejarah yang masih hidup, ini bukan kerja paksa seperti yang diceritakan beberapa orang :saya tahunya setelah baca-baca jurnal yg saya dapat dari googling:]. Di dalamnya, terdapat 20an lorong kecil dengan fungsinya masing-masing, seperti ruang amunisi, ruang makan, dapur, penjara, tempat pengintaian, pintu pelarian, dll.
Dari Informasi guide, terdapat 3 pintu utama dan 6 pintu darurat. Pintu utama ada di Taman Panorama (hanya pintu ini yg sekarang digunakan), di samping Istana Bung Hatta dan satunya tembus ke Ngarai Sianok. Dari denah peta yang ada di pelataran Lobang Jepang, dengan keadaan yang ada di dalam Lobang Jepang, nampaknya wisata ini masih sedang dikembangkan. Terlihat, bahwa dalam denah, ada ruang mini teater untuk menampilkan film-film sejarah tentang penjajahan Jepang di Sumatera dan sekitarnya. Namun, di dalam terowongan, masih sedang dalam proses pembangunan.
Ada pula ruangan yang nantinya akan dijadikan Museum Scientific, yang masih dalam proses pengerjaan. Begitu pula dengan ruang cafe untuk istirahat para wisatawan sambil menikmati kebekuan dalam gua. Meski, sampai sekarang ini, masih terjadi perdebatan, apakah akan direalisasikan rencana ruang cafe tersebut, menimbang sirkulasi dan ventilasi udara di dalam gua kurang baik untuk memasak. Masih dikaji, apakah akan menimbulkan risiko dan bahaya pada pengunjung.
Di berbagai sudut dan sisi terowongan, dipasang lampu-lampu untuk menerangi jalan yang gelap di bawah tanah. Pada 100 meter awal, dinding batunya telah dipoles dengan semen saat dipugar dahulu. Namun,,100 meter setelahnya, dinding tidak dipoles semen atau pelapis apapun!?! Ketika tangan kami menyentuh bagian dinding dan menggoresnya dengan sedikit tenaga, pasir-pasir dari dinding nampak berjatuhan. Itulah yang membuat kami cukup ngeri. Apakah keamanan di dalam Lobang Jepang ini telah teruji?? Mengingat daerah Sumatera Barat sering diguncang gempa akhir-akhir ini. Juga tak ada peralatan telekomunikasi di dalam terowongan untuk berhubungan dengan dunia luar/di luar terowongan. Semoga dalam perkembangannya, Lobang Jepang akan terus memperbaiki fasilitas dan keamanan untuk para pengunjung.

0 comments:

Posting Komentar

.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...