Tampilkan postingan dengan label -jeLajah Jawa Tengah-. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label -jeLajah Jawa Tengah-. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Agustus 2011

Melepas Penat: Berwisata Ke Curug Silawe, di Lereng Sumbing



Setelah 6 bulan kerja di Pekanbaru,,rindu pada kota kelahiran tak terbendung lagi. *Lebay* Akhirnya, akhir Mei, yang bertepatan dengan first anniversary of our marriage.. *iihhiirrr....* kami mengambil cuti dua minggu untuk honeymoon di Jogja dan Magelang.. Hahaayyy..

Salah satu lokasi wisata yang kami kunjungi ialah Curug Silawe. Sebenarnya udah nyidam pengen ke sana sejak masih bekerja di Yogyakarta,,tapi baru terealisasi sekarang deh.. ^^, Ditemani guide Mas Amin, teman suami yang memang tinggal di dekat lokasi curug, kami mulai petualangan kami menuju Curug Silawe.. :D Here goes the story.. : )

Dengan kondisi kehamilan 5 bulan, kami ‘nekat’ bermain ke air terjun. Tak lupa pastinya, berdoa memohon keselamatan pada Allah, semoga perjalanannya lancar juga.. ^^, Dari Magelang kota, kami menuju Pasar Kaliangkrik, tempat kami janjian bertemu dengan Mas Amin. Setelah beberapa kali tanya orang2 sekitar, akhirnya ketemu deh pasarnya.. hyuff.. Perjalanan dilanjuttkan menuju Desa Sutopati, Kajoran, tempat dimana Curug Silawe berada.
Pemandangan Saat Perjalanan Menuju Curug Silawe
Perjalanan tak terasa semakin menanjak ke atas. Namun, pemandangan di sepanjang jalan sangat indah. Nuansa pedesaan yang kental, hamparan sawah dan hutan pinus, aliran air yang jernih, plus udaranya jernih sejuk githu. Asyik deh.. Maklum, daerah ini termasuk di kawasan lereng Gunung Sumbing.. : ) Inilah yang membuat Na sering kangen dengan kota ini.. *Hal yang ga bakal kamu temui di Pekanbaru..huhuuww..*

Mendekati curug, jalanan makin menanjak, yang membuat saia harus turun jalan kaki lantaran motor sudah tersengal-sengal membawa kami berdua..hahayy.. Lumayanlah buat olahraga ibu hamil.. *Mpe loket Curug Silawe, saia langsung lemes laper, kehabisan tenaga,,hahaa..*

Tiket masuk sangat murah meriah, cukup mengeluarkan Rp 2.000,- per orang, plus biaya parkir motor sebesar Rp. 1000,- saja, kita dapat menikmati keindahan air terjun di Curug Silawe.

By the way, asal muasal nama Silawe ini, kami dengan sotoy mengira, berasal dari kata ‘Selawe’ (bahasa Jawa) alias Dua puluh Lima.. *Karena air terjunnya cukup banyak sih,,yang besar dua,,yang kecil2 ada beberapa... :p* Tapi ternyata, artinya bukan itu,,hahahaa.. Arti Sebenarnya ternyata, Silawe berasal dari kata “Lawe” (Bahasa Jawa) alias sarang laba2. Mungkin karena bentuknya seperti sarang laba-laba kali ya? Entahlah.. ^^,

Menuju ke curug, kita bakal melewati sekian ratus tangga.. *hosh hosh* dan sampailah ke curug!! :D Curug alias air terjun disini yang besar ada dua. Satu namanya ya Curug Silawe itu dengan ketinggian 60 meter, satunya lagi bernama Curug Sigong, yang ada di sebelah kanan Curug Silawe dengan tinggi 150 meter. Asal mula kata sigong, karena sering menimbulkan suara bunyi gong, terutama pada malam hari. Untuk menuju ke Curug Sigong ini, kita melewati jembatan kecil dan menaiki tangga lagi *Hati-hati, tangganya licin karena selalu basah terkena percikan air terjun* Ada yang Na suka, dinding2 di Curug Sigong membentuk suatu lekuk kotak-kotak yang indah. :D Ini nih fotonya.. ^.^


Oya, berdasar cerita pegawai kantor, setiap menjeng Ramadhan, ada kegiatan adat yang dilakukan disana. Kaya gerebeg/gunungan di Jogja githu deh. Yaitu membawa gunungan hasil panen yang diarak masyarakat dari Lapangan Sutopati sampai ke curug. Tapi entah ya, apakah hingga saat ini tradisi tersebut masih dilakukan/dilestarikan atau tidak, heehe.. Karena kebetulan kami kesana bukan pada saat menjelang Ramadhan.. ^^

Akhirnya, setelah puas menikmati pemandangan alam,, dan tentu saja sudah basah plus kedinginan terkena percikan air terjun yang deras, kami bersiap pulang deh. Mampir dulu ke rumah Mas Amin, bersilaturahim dan ingin tahu juga rumahnya. Sampai di kota Magelang, kami juga mampir ke Bakmi Godog Djendralan.. Menikmati Bakmie Godog yang saya idam2kan saat di Pekanbaru.. *Nyidam bakmi jawa tepatnya,,huhuu..di Pekanbaru berasa masakan padang semua.. T.T* 



Jumat, 31 Desember 2010

Ini nihh,,Keadaan Gunung Merapi Sebelum dan Sesudah Meletus Tahun 2010

Ini nih,,perbandingan keadaan dan pemandangan, sebelum dan setelah Gunung Merapi meletus kemarin November 2010.

1. Yang paling kelihatan, yaitu "prasasti" di Pasar Bubrah, yang sebelum meletus, masih terlihat utuh. Namun setelah meletus, sudah rusak tak berbentuk "prasasti" lagi.
>> Sebelum<<
>> Sesudah <<

2. Dari susunan dan 'penampakan' trek jalannya,,juga berubah. Sebelumnya penuh batu besar, sekarang telah tertutupi banyak pasir dan kerikil. [Kiri,gambar kecil: Sebelum; Kanan, gambar besar:sesudah]
>> Sebelum <<

>> Sesudah <<
Nah,,kelihatan kan, perbedaannya.. >.<


tempat di gambar ini tempatnya sama loohh padahal... cuma beda angel waktu nge-take photo



 
Segini dulu yahhh..heheee.. =)
Untuk foto sebelum Gunung Merapi Meletus, merupakan koleksi pribadi penulis. sedangkan foto setelah Gunung Merapi meletus diambil dari salah satu thread di kaskus.
Hanya share aja, buat perbandingan. Dan semoga, setiap jiwa dapat mengambil hikmah dari fenomena alam tersebut, dan melakukan perbaikan dalam hidupnya. untuk dunia. Untuk akhirat.
Semoga Bermanfaat.. ^.^

Selasa, 28 Desember 2010

::Pendakian ke Gunung Merapi bersama Kawan StapaLa::


>> Pemandangan Gunung Merbabu dilihat dari Pasar Bubrah-Merapi <<
Bulan November lalu, media massa banyak menyorot tentang erupsi Gunung Merapi yang sangat dahsyat hingga menewaskan ratusan orang. Bahkan, sosok yang dikenal masyarakat sebagai juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, juga termasuk dalam deretan nama korban tersebut.

Sungguh di luar dugaan, bahwa kami pernah menyambangi, mendaki Gunung Merapi. Kala itu 28-29 September 2010, kami mendaki melalui jalur Selo, Boyolali. Entah bagaimana kondisi jalur itu sekarang, apakah masih dapat dilewati atau tidak. Tapi tak ada salahnya jika kami bercerita pendakian kami kala itu ^.^

-Sekilas Info Gunung Merapi-
Gunung Merapi (2.968 mdpl) merupakan salah satu gunung api yang mempunyai daya rusak yang tinggi dan paling aktif diantara 75 gunung api di Indonesia serta merupakan gunung terganas di dunia. >.< Salah satu ciri khas dari Gunung Merapi adalah pada saat terjadi letusan menghasilkan awan Wedus Gembel (karena bentuknya berupa gumpalan awan panas berbentuk keriting mirip kambing jawa). Awan panas ini mempunyai suhu sekitar 1.000°C. Weww.. Ciri khas lainnya ialah pembentukan kubah lava yang bisa mencapai ratusan meter kubik perhari, yang –katanya- terbesar jumlahnya sepanjang sejarah terjadinya letusan gunung berapi di dunia.

-Pendakian Melalui Jalur Selo-
Kami berdelapan [aNa, aNNas, Diaz, Coti, Gembes, Jupret, Yella, dan Aziz] menyiapkan logistik dan keperluan di rumah Uka, Magelang. Untuk mencapai Desa Selo, kami dibantu Bp. Jauhari (bapaknya Uka) menggunakan pick-up. Buat info aja, kalo mau naik kendaraan umum, dari Yogyakarta kita naik bus ke Magelang, turun di Blabak, dilanjutkan naik minibus ke jurusan Selo. Note: pukul 17.00 WIB kendaraan dari Blabak ke Selo jarang beroperasi. Sebenarnya Selo lebih mudah dicapai dari arah Solo-Boyolali, karena dari Boyolali, ada angkutan yang langsung menuju Selo.

Kami berencana mendaki tengah malam, untuk mengejar sunrise. Akhirnya, setelah sampai Desa Selo (1.560 m.dpl), kami menginap di rumah Pak Nardi (teman Bp. Jauhari) untuk istirahat. Desa Selo  merupakan gerbang pendakian utama dan terletak di tengah Gunung Merapi dan Merbabu.
 Tengah malam, kami bersiap dan mulai mendaki sekitar pukul 01:00. Hawa dingin yang menyergap membuat aNa agak masuk angin saat mendaki [maklum, baru kali ini mendaki pas tengah malam^^,] 
Berfoto Di Pasar Bubrah ^.^

 Untunglah teman2 pengertian,haha..menyesuaikan lajunya dengan kemampuan aNa. Start dari New Selo, kami memulai perjalanan. Perjalanan malam hari sungguh indah. Kerlip lampu jalanan dan rumah, tampak seperti bintang berkilauan. Tak terasa kami sudah sampai

Perjalanan dilanjutkan menuju Pos II yaitu Selokopo Bawah (2.040 mdpl) dan Selokopo Atas (2.283 mdpl) dengan track jalan tanah berbatu yang sempit. Karena perjalanan malam, pandangan mata kami agak ‘sempit’ jadi kami juga kurang tahu, sampai pos II Selokopo dimana,hahaa… Akhirnya, sekitar pukul 05:00 atau sunset, kami sampai di bukit atas dekat Pasar Bubrah. Berfotolah kami disana, sambil sarapan pagi, menikmati indahnya pemandangan. Tak lama, perjalanan dilanjutkan menuju Pasar Bubrah (2.450 m.dpl) atau pasar setan,hehee.
 Dari     Pasar Bubrah, perjalanan diteruskan selama 2 jam melalui jalan yang sangat menanjak dan berbahaya, berupa bongkahan-bongkahan batu besar, menuju ke Puncak Garuda (2.911 m.dpl). Pemandangan di atas sangat menakjubkan sekaligus mengerikan >.< Saya sempat agak keder dan keletihan, sehingga hanya sampai sekitar kawah mati. Dari sana terdengar gemuruh kawah dan nampak asap yang muncul diantara bebatuan, berbau belerang menyengat.

[Lihat foto di bawah foto pasar bubrah: Dari foto pasar bubrah,nampak bukit "kecil" sebagai latar belakang..namun setelah kita dekati dan daki,,ternyata guedeee..hahaa.. lihat kotak putih itu,,itu teman kami,,yang jika disandingkan dengan bukit "kecil" tersebut, tak ada apa2nya.. Trek berupa bebatuan besar kecil yang mudah rapuh kalo ga menapak dg benar.. Saya sempat takut dan terseok-seok mendaki bukit tersebut.] 

Pemandangan dari atas..Hampir puncak.. ;p
Dari puncak ini pula, kita bisa saksikan kota-kota di kaki-kaki gunung seperti Yogyakarta, Boyolali dan Magelang. Bahkan Lautan Hindia di kaki langit juga nampak di batas cakrawala. Bagus dehhh... =)

Perjalanan turun, kami lebih santai. Dan seperti biasa, kaki aNa mulai trouble lagi, yaitu sakit snut2 di tempurung lutut kanan, sehingga menghambat perjalanan. T.T Entah, sejak naik Gunung Kencana, kaki kanan ini selalu sakit terutama ketika turun. Ahh,,apapun itu,,semoga baik-baik aja. Hehee.. Akhirnya sampai di New Selo, sekitar pukul 5 sore. Dan kami sudah dinanti Bp. Jauhari, untuk kembali ke kota magelang. =) Pengalaman yang tak terlupakan deh… ^^


[ Keterangan gambar ]
Jadi,,ketika pendakian terakhir melewati bebatuan-bebatuan besar tersebut, terasa sangat bau belerangnya.plus ada beberapa area, yang bebatuannya mengeluarkan asap, dan cukup panas jika kita sentuh. >> Liat di foto dehh.. Sempet seram juga. >.< ni aja gunungnya sedang tidak aktif,,gimana kalo aktif yah.. ^.^

Kamis, 04 November 2010

Ketep Pass.. Maknyus Buat Melihat Keindahan Lima Gunung =)


Salah satu spot terbaik untuk melihat Gunung Merapi, Merbabu bahkan Gunung Sumbing, Sindoro dan Slamet [jika cuaca mendukung] adalah Ketep Pass. Ketep Pass terletak di kabupaten Magelang di ketingggian 1200 mdpl. Dengan luas area 8000 meter, berjarak 30 km dari Kota Magelang, terletak diantara jalan SSB [Solo-Selo-Borobudur], Ketep Pass ini memberikan banyak spot yang akan memperkaya wawasan kita mengenai kegunungapian. Seperti foto di bawah ini nih,, Mantab bukaann.. ^.^
Sangat beruntung sekali,,ketika kami mengunjungi Ketep Pass, langit sangat cerah, bersih dari awan. Sehingga, selama perjalanan pun, Merapi dari kejauhan sudah terlihat cantik menawan. Ketika  sampai di lokasi, kami tak sabar untuk langsung berfoto, di belakang merapi merbabu. Mumpung masih cerah ;D Hehehee..

Ini nih,,beberapa fasilitas yang desediakan Ketep Pass untuk memanjakan keingintahuan kita akan kegunungapian. Lets check it out, guys..

GARDU PANDANG           
Berupa gazebo-gazebo yang dapat kita duduki untuk melihat keindahan pemandangan di sana. Liuk merapi nan eksotis, area hijau persawahan nan luas membentang. Bakal betah deh seharian di tempat ini. Sambil mencari inspirasi. Hehehee..

KETEP VULKANO THEATRE
Dengan karcis seharga 5000 perak, kita dapat melihat film documenter tentang aktivitas Gunung Merapi. Film ilmiah ini menceritakan tentang terjadinya,jalur-jalur pendakian ke Merapi dan penelitian kegunungapian di puncak Garuda serta dahsyatnya letusan Gunung Merapi,

KETEP VULKANO CENTRE
Alias Museum Ketep. ^^, Museum vulkanologi ini
menampilkan berbagai foto Gunung Merapi, di saat tenang maupun saat meletus. Juga berbagai batuan hasil letusan Merapi. Tepat di tengah museum, ada miniature Gunung Merapi juga loh. =)

PELATARAN PANCA ARGA
Panca Arga = Lima Gunung. Yupp,,Like I tell you in the first time,, If U’re lucky,, U could see even five mountain at that time! Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro dan Slamet. =) Plus bonus,,gunung2 kecil lainnya, seperti Gunung Tidar,Gunung Andong, Bukit Menoreh,Bukit Telo Moyo, etc [Kami gak tahu nama bukit lainnya ;p]

RESTAURANT KETEP PASS
Disini pengunjung dapat menikmati menu yang disajikan diRestaurant Ketep Pass sesuai selera.Bangunan di atas ketep vulcano teatre yang berdinding kaca ini,sangat cocok untuk pengunjung sambil menyantap hidangan yang tersedia juga menikmati indahnya panorama di kaki Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

TEROPONG

Dengan membayar 3000 perak;; [gak tau yaa..kalo inflasi n kurs naik, harganya sekarang berapa ;p] bias melihat jauh lebih jelas gunung-gunung tersebut, dengan TEROPONG.

Last,,akhirnya setelah menikmati semua fasilitas di sana,,matahari sudah beranjak ke timur,,saatnya untuk pulang ke rumah. For you..Enjoy Your Trip to Ketep Pass,,then.. ;D

Selasa, 02 November 2010

BoyoLaLi ternyata Punya Waduk : Waduk CengkLik Namanya.. ^^



Sekitar 3 minggu yang lalu, 2 Oktober 2010 aNa dan aNNas bekesempatan untuk menyambangi Boyolali untuk kedua kalinya ;D Kali ini untuk menghadiri pernikahan kawan. Barakallah ya, Esti.

Setelah acara usai, kami merencanakan untuk bermalam di Solo dan jalan-jalan seputar Solo esok paginya. ^.^ Ketika melewati Jl Raya Boyolali-Solo, tak sengaja kami membaca petunjuk jalan dari  kayu bertuliskan “Waduk Cengklik 7 km”.
Dengan naluri adventure yang kami punya ;p , maka kami langsung banting stir belok ke kiri menuju: WADUK CENGKLIK.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup mudah [hanya satu rute itu] selama 15 menit, dari ketinggian dapat kita lihat kilauan cahaya keemasan Waduk yang berada di Desa Ngargorejo, Kec. Ngemplak, Kab. Boyolali ini cukup luas. Waduk ini mempunyai luas genangan 300 ha dan dibangun pada jaman Belanda loh katanya..

Trus keistimewaan lokasi ini, bagus banget pemandangannya pas sunset. Karena lokasi yg menghadap ke arah timur, tepat dengan arah matahari tengeelam. Melihatnya, akan Nampak matahari “jatuh” ke bawah danau. =) Namun, karena perjalanan kami masih jauh, kami tak sempat melihat fenomena alam tersebut. Disana, kami hanya main sekitar 20 menit-an, dan pk 16:00 segera melaju menuju Solo.

Hmm,,yang sangat disayangkan di Waduk Cengklik, yaitu pertumbuhan eceng gondok yang makin meluas di kawasan waduk. Tentu saja mengurangi keindahan waduk dan pastinya membuat kapasitas air yang ditampung waduk semakin berkurang. Juga, fasilitas yang seadanya, terkesan kawasan wisata ini kurang digarap oleh pemda. Sungguh susah mencari toilet di kawasan tersebut, dan terpaksalah saya harus menahannya sampai nanti di perjalanan bertemu dengan masjid. ^^, [makanyaa…ga sempat liat sunset >.< udah ilfil duluan liat tempatnya yg seadanya n gak ada toilet ;p] Padahal wisata ini cukup berpotensi dan mampu memberikan penghidupan bagi warga sekitar dengan berprofesi sebagai penjual maupun nelayan.

Oya,,setelah perjalanan hamper satu jam, sampailah kami di Solo. Hihii.. di kota ini, kami hanya numpang singgah di hotel saja.. ^.^ tidak sempat berkeliling berwisata. Maybe next time.. of course with you,,my Lovely Dear.. ^^,

Senin, 25 Oktober 2010

Wisata Arung Jeram di Sungai Elo Bareng Squad Wonosari =)


-di starting point.. =) -
Wisata kali ini, kami berkesempatan untuk rafting alias arung jeram bareng teman-teman magang KPP Pratama Wonosari. Gak usah jauh-jauh, di Magelang banyak sungai yang bisa dijadikan sebagai wisata arung jeram, diantaranya Sungai Progo atas, Progo bawah dan sungai Elo. Untuk pemula, Sungai Elo wajib dicicipi bagi para pecinta wisata alam. Kami berdelapan, siap untuk menjelajah Elo! Here we GO!?!

-Pas di salah satu jeramnya!!-
Kami meminjam operator dari Netral Rafting, yang berlokasi tepat di depan Candi Mendhut. Harga perkapal, awalnya 600ribu namun setelah nego harga, jadilah 450ribu per perahu. (include snack pas jeram istirahat n makan siang) Lumayanlah.. =) 

- Suasana di pinggir Sungai Elo
Dengan menaiki truk kecil kami menuju ke start point di Jembatan Blondo, Magelang. Setelah pemanasan, maka kamipun segera melaju di atas air. Beruntungnya kami, karena saat itu, debit air lagi tinggi-tingginya! Mantap bah!! Mengikuti liuk sungai di atas kapal, mengarungi jeram-jeram, adrenalin yang semakin dipicu ketika hadapi jeram besar, jatuh dari perahu, atau renang jeram. Hihii.. asik dah!! Variasi aliran tenang dan jeram-jeram kecil mendominasi sungai ini, diiringi tebing-tebing dan pohon-pohon peneduh diatasnya.



Kami mengarungi sungai sekitar 2,5 jam (pk. 09:00 – 11:30) dengan jarak tempuh sekitar 12 km. Grade Sungai Elo sendiri hanya grade II – III, sehingga aman lah buat beginner/pemula. Ditambah, tiap perahu pasti ada skipper dan tiap person memakai helm dan . So, You don’t have to worry bout the safety =) Aman, insya Allah. 

Suasana di pinggir Sungai Elo - mantap! indah!
Oya, ini nih, beberapa nama jeram di sungai Elo: Jeram Welcome, Jeram Kedung Celeng, Jeram Keriting, Jeram Bottle Neck dan Jeram Rock n Roll. Btw, nama Elo sendiri, ternyata adalah nama pohon, dan pohon tersebut, banyak tumbuh di tepi sungai yang diarungi selama 2 jam itu. Jadilah nama sungai itu Sungai Elo ^.^ 




Bernarsis Ria ;p


Setelah 2,5 jam ngarung, sampailah ke finish point, di Desa Mendut. Dengan menaiki mobil yang sama, kami kembali ke Netral Rafting. Lalu bersih2, mandi dan makan di Restoran Kampung Ulu. Maknyus dah restonya, makanan n tempatnya! Udah sepaket sama raftingnya. Hihii.. Sayang, cuaca tak mendukung kami untuk wisata lagi [rencana mo ke Ketep ^^,]. Mendung sudah menggelayut, gelap. Rintik-rintik hujan sudah turun. Akhirnya diputuskan kami kembali ke rumah masing-masing dalam keadaan senang. Juga ketagihan. Pengen rafting lagi. ^.^
Saat di Kampung Ulu.. ^.^

- di finishing point, nyempetin untuk berfoto ria -
Baca juga:

Kamis, 29 April 2010

Kawasan Dieng Plateau: Kami Hampir Saja Menjamahmu...


Ya,,ya.. Judul awal, anda-anda pastilah bertanya.. ada apa gerangan??? [formal banged].
 Ya..ceritanya memang panjang. Saya hanya tinggal beberapa langkah saja untuk 
menikmati pesonamu, tapi Allah berkehendak lain. Wohohoww..karena apakah? 
Lets check it out!!

Setelah selesai menjelajahi kawasan Telaga Menjer, kami pun lansung cabut ke Dieng,
 tujuan semula. Lagipula, cuaca sedang tak bersahabat. Hujan dan kabut  terus. 
Kasihanilah kami yang hanya naik motor. >_< kedinginan di jalan. 

Ini pemandangan ketika di perjalanan.
Worth it lah dengan jalanan yang 'menantang'.

Ternyata, jalanan menuju Telaga Menjer, belum ada apa-apanya dengan jalanan menuju 
Kawasan Dieng. Beuh,,sangat  curam, sebelah kanan jurang, terus jalanannya menanjak 
nan sempit, padahal dilalui dua arah. Benar-benar memacu adrenalin. Ehem,,apalagi 
naik motor pake Supri [nama motor Supra aNa, heheww..] yang ketika jalanan sangat 
menanjak, tersengal, sama orang jalan aja lebih cepet orang jalan mungkin. Di pikiran 
aNa, haduh, gimana kalo ga bisa naik, dan akhirnya malah meluncur ke bawah, or 
sumthin worse. But is just on my mind. Buktinya, kami selamat. =)

Ketika sudah sampai di gapura jalan bertuliskan ‘Dieng Plateau Area’ kami semakin 
semangat memacu motor. Tapi, jalanan makin tak bersahabat. Somehow, akhirnya 
sampalah kami di pertigaan, yang menunjukkan ketinggian 2093 mdpl. Waoa!! aNa 
sendiri, tercengang dengan keterangan tersebut. So surprise for me, telah membawa 
Supri sampai sejauh ini. Aiyy,,besok setelah sampai Jogja, akan ku treatment dan 
ku service full dah. Biar makin joss.
ketika mencapai 2093 mdpl, 100 meter sebelum ban bocor T.T
Back to topic, karena perut lapar, makanlah kami. Setelah makan, kami ingin 
mengunjungi Telaga Warna terlebih dahulu. Tapi, tapi, ohh..tapi... Tak tau bagaimana, 
kempes ban belakang motor kami. Bocor. Hahaa.. waktu menunjukkan angka dua. 
Adakah tukang tambal ban di ketinggian seperti ini??? >_< padahal pintu masuk 
Telaga Warna, hanyalah tinggal beberapa meter dari mata kami. So sad. But its OK. 
Mengobati Supri lebih penting dari apapun. Ini juga akumulasi dari jalanan yang gila 
naik turunnya, dan kondisi ban yang anginnya tak penuh ketika di awal perjalanan.
Ini niy..ketika aNNas mendorong ban yang bocor

Jalanlah kami sambil menuntun motor di tengah kabut. Well, kurang lebih 500an 
meter ada tukang tambal ban [info dari para penduduk]. Oya, ketika melewati 
kawasan perkebunan warga, aihh..ternyata mereka sedang panen kentang. =) 
melihat mereka giat bekerja, diselimuti kabut dan dinginnya hawa, salut. 
Semoga Allah melancarkan rezeki kalian. 

Tambal ban, selesai pukul 4 sore. Tak memungkinkan untuk mengunjungi kawasan 
tersebut. Pulang sampai rumah pastilah sangat malam. Tak mungkin pula untuk 
menginap disana. Apa kata dunia? Orang tua kami pasti tak merestui. 
Belum lagi disana, HP kami tak ada sinyal sama sekali. Jadi, mau tak mau, 
kami harus kembali ke rumah. Tapi, suatu saat nanti, kami ingin datang lagi. 

.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...